Rasanya cuma ini yang cocok untuk mengungkapkan kekecewaan saya terhadap langkah pemerintah menghadapi gejolak harga kedele.
Percuma sampai presiden beserta stafnya rapat di departemen pertanian kalau yang terjadi keputusannya hanya menghapus bea masuk impor sebesar 10%. Padahal kenaikan yang sudah lebih dari 100% hanya dijaweab dengan insentif 10% gak ada artinya.
Entah kebijakan apalagi yang akan dibuat oleh pemerintah untuk mengatasi gejolak kedele dan jagung yang merubah trend dunia di masa depan.
Perubahan pola penggunaan kedele dan jagung atau biji-bijian tidak akan mengembalikan harga menjadi murah kembali.
Trend dunia sejak kenaikan harga minyak menyebabkan dunia beralih pada biofuel yakni bioetanol. Makanya kebijakan pemerintah harusnya sudah mengarah kesana. Apabila kebijakannya yang komprehensip bukan mustahil Indonesia akan menjadi produsen biofuel terbesar. Tapi mungkinkah.
Mekanisasi
Saat ini pemerintah harusnya membenahi secara total pola pertanian kita. Kedele lokal menjadi mahal sehingga tidak dilirik oleh pengguna kedele karena lemahnya pasca panen petani.
Sampai saat ini petani yang jelas lemah dari sisi modal tak berdaya menghadapi peningkatan kualitas kedele yang diminta oleh pasar. Demikian pula dengan produk pertanian yang lain.
Namun sayang justru inilah yang terlemah. Pemerintah tidak memberi solusi yang baik menghadapi kendala petani.
Petani membutuhkan alat-alat mekanisasi yang modern untuk menunjang kualitas yang diinginkan pasar. Padahal petani jelas tak punya cukup uang untuk mebeli peralatan tersebut. Alhasil mereka jual produknya dengan kualitas rendah tapi dengan harga yang mahal. Sampai disni jangan berharap pertanian kita berkembang.
Harusnya pemerintah membuat lembaga bantuan petani dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah dengan mengumpulkan petani dalam areal tertentu misalnya untuk petani kedele. Kemudian pemerintah membuat sebuah lembaga yang menyediakan segala keperluan petani baik sarana produksi maupuan saranan pasca produksi. Lembaga ini juga akan berfungsi sebagai penyangga komoditas yang dihasilkan petani. Sebenarnya mirip bulog, sayangnya sekarang lembaga ini bukannya membantu petani tapi justru menghancurkan petani.
Lembaga Petani tersebut nantinya disamping mempunyai peralatan untuk meningkatkan kualitas juga harus mempunyai tempat penyimpanan yang baik juga sehingga ketika panen raya produk petani tak langsung dijual.
Selain itu sukur-sukur lembaga ini juga memberikan kemudahan kredit bagi petani untuk produksi seperti bibit, pupuk dan desinfektan.
Peternakan terutama ayam sudah cukup lama terjadi kemitraan yang bagus antara peternak dengan mitra yang dipegang oleh swasta. Produk peternakan langsung dihargai dengan harga kontrak. Peternak nyaman beternak tanpa ketakutan harga jatuh.
Bisakah petani mempunyai lembaga semacam itu sehingga kualitas kedele, jagung dan biji-bijian lainnya bisa bagus dengan kadar air dan aflatoksin yang rendah.
Rabu, 16 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar