Jumat, 18 Januari 2008

Kapan Ada Bank Pertanian

Pak Jumadi enteng mengayuh sepedanya menelusuri jalan desa menuju sebuah perempatan di kota kecamatan. Butuh 7 kilometer Jumadi menempuh jalan untuk sampai ke sebuah perempatan. Ya di perempatan itu berdiri sebuah bangunan bernama Bank Pertanian dengan slogan Semua Untuk Pertanian.

Sesampainya di gedung tersebut pak Jumadi yang menggunakan kemeja warna putih sedikit lusuh dengan celana hitam dan sandal jepit menemui seorang wanita di sudut ruangan berpenyejuk. Seoerang wanita dengan wangi dan dandanan rapi memberi salam Jumadi. "Selamat pagi pak gimana panen jagung kemarin?" Pak Jumadi menebar senyum sambil berkata "Wah lumayan bu yang jelas bisa ngirim anak buat biaya sekolah dan bayar kredit"

"Oh ya sekalian ibu saya mau ambil kredit lagi buat nanem padi bu kan mau musim hujan," ujarnya sambil menyodorkan sebuah buku. Wanita muda pegawai bank kemudian membuka buku yang disodorkan Jumadi.

"Seperti biasa ya pak jaminannya panen nanti. Jangan lupa ke bagian pengadaan untuk ferivikasi untuk mendpatakan sarana produksi. Kalau bisa panennya agak banyakan lagi pak biar selisihnya nambah buat keperluan pribadi,"

"Pasti bu saya akan terus memperbaharui sistem penanaman saya biar hasilnya lebih dari yang kemarin," ujar Jumadi seraya mengambil buku dan rekomendasi dari Bank.

Ini khyalan saya, mungkin gak di negara kita mempunyai kebijakan tentang penjaminan kredit dengan hasil panen. Dengar-dengar di banyak negara agraris kebijakan Perbankan Pertanian sudah diterapkan.

Sampai saat ini negara Indonesia belum mempunyai kebijakan tentang UU Perbankan pertanian yang memperkenan masyarakat mendapatkan kredit dengan jaminan hasil panen dan bukan kebendaan. Tentu saja selain itu juga harus mempunyai bunga bank yang rendah.

Pada pola yang sama namun sedikit berbeda pola ini sudah diterapkan di peternakan terutama unggas. Peternakan unggas di Indonesia sudah cukup maju terutama kreativitas bisnisnya. Saat ini untuk beternak ayam baik pedaging maupun petelur tak harus punya modal besar untuk menjalankannya.

Terutama ayam pedaging cukup dengan modal kandang dan peralatannya peternak sudah bisa mendapatkan semua modalnya. Banyak perusahaan kemitraan yang menawarkan kerjasama yang cukup bervariasi.

Initinya segala kebutuhan sarana produksi mulai dari bibit ayam, pakan dan obat-obatan disediakan oleh perusahaan kemitraan. Peternak tinggal menyediakan kandang beserta kelengkapannya ditambah tenaga kerja.

Sebelum memulai perusahaan kemitraan menyodorkan detil kerjasamanya mulai dengan kesepakatan harga bibit, pakan dan obat serta harga beli ayam setelah panen. Bahkan ada perusahaan kemitraan yang memberi insntif khusu bagi peternak yang mampu menekan angka kematian dan jumlah konsumsi pakan. Adanya banyak pola kerjasama dari banyak perusahaan kemitraan yang ditawarkan.

Bisakah kalau pola seperti ini diterapkan pada sektor pertanian lainnya seperti jagung, kedele, padi, hortikultura bahkan perkebunan. Atau bisakah lembaga keuangan pemerintah masuk ke wilayah ini menggunakan pola tersebut dengan bunga yang rendah di bawah bunga bank komersial.

Atau bisakah Koperasi mengambil peran semacam seperti ini. Pemerintah memberi kontribusi modal pada koperasi untuk melengkapi diri mulai dari penyediaan semua sarana produksi pertanian hingga mesin-mesin mekanisasi untuk produksi maupun pengolah hasil panen. Petani hanya berkonsentrasi untuk menghasilkan tanaman yang subur dengan panen yang maksimal selebihnya Koperasi yang mengurus?

Rasanya memang masih panjang pertanian Indonesia mencapai titik impiannya.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ide anda sangat brilian karena saat ini memang pemerintah kita tidak serius memberdayakan pertanian yang menjadi basis kehidupan sosial masyarakat mayoritas di Indonesia. Ide Bank pertanian dengan penjaminan panen sebuah pemikiran yang layak di pertimbangkan oleh pemerintah kita