Rabu, 16 Januari 2008

Pasca Panen Tak Tersentuh

Hari ini saya berpikir bahwa memang benar pemerintah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan pertanian. Indikasi kuat adalah problem naiknya harga biji-bijian sebenarnya sudah tercium setahun yang lalu ketika adanya krisis energi fosil.
Pemerintah negara-negara maju mulai mengantisipasi kenaikan harga energi dunia dengan meningkatkan penelitian dan produksi bio energi. Hal ini terbukti harga jagung impor naik yang ditandai dengan naiknya harga pakan sejak tahun 2006.
Pemerintah Amerika kemudian mulai merubah peruntukan lahan yang semula buat kedele menjadi tanaman jagung yang kemudian dirubah menghasilkan bioetanol. Secara bertahap pemerintah amerika mulai memasarkan bioetanol kendati masih terbatas.
Namun sebagai negara maju pastilah mereka serius dalam menjalankan program mulai konversi hingga pom-pom bensin bioetanol.
Sangat berbeda dengan pemerintah kita sejak jaman tahun 80-an kita sebenarnya sudah dijajah dengan produk-produk impor. Baik jagung, kedele sampai tepung terigu.
Sejak jaman tersebut sampai sekarang swasembada biji-bijian ahanya sebatas wacana saja tak lebih dari itu.
Harusnya pemerintah secara bertahap membenahi problem-problem yang membuat swasembada tidak tercapai. Sayangnya pemerintah tak pernah beranjak pergi.
Kualitas yang sering dikeluhkan hampir tak pernah tersentuh. Perbaikan pasca panen hampir tak pernah diperbaiki. Petani selalu dihantui kerusakan hasil panennya karena ia tak punya alat-alat yang canggih seperti pemanas ataupun tempat penyimpanan.
Alhasil setiap musim panen kita selalu dihadapkan pada harga-harga produk pertanian yang rontok. Dan sampai saat ini kita masih seperti tahun 90-an dari ukuran problem.

Tidak ada komentar: