Kamis, 31 Januari 2008

Peternak Mandiri Semakin Terjepit

Kenaikan harga pakan yang telah mencapai angka Rp 4000an membuat banyak peternak mandiri kesulitan keuangan. Hal ini dikarenakan harga ayam tak lebih dari Rp 7000an sehingga praktis peternak mandiri hanya mengantongi kerugian. Daya beli masyarakat kita yang masih rendah membuat harga ayam baik hidup maupun karkas menjadi tak mampu naik.

Situasi ini akan merubah wajah perunggasan Indonesia. Harga pakan diyakini akan sulit untuk kembali ke harga tahun 2007 yakni berkisar Rp 3000an. Untuk itulah kondisi ini akan menggeser peternak yang ada.

Dalam kurun 5 tahun kedepan saya meyakini bahwa kemitraan akan mendominasi peternakan unggas kedepan. Hal ini berkiatan dengan efisiensi karena perusahaan kemitraan yang besar dimiliki oleh perusahaan integrator yakni Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Wonokoyo, Sierad dan Cheil Jeddang.

Perusahaan peternakan yang terintegrasi secara vertikal akan terus mengefisienkan industrinya untuk mendorong peternakan komersialnya tumbuh. Kenapa seperti itu? Karena dengan komerisal farm telah dipegang maka industri hilir yang menjanjikan keuntungan besar akan menjadi semakin didorong maju.

Kita lihat betapa Japfa Comfeed mampu mendorong maju industri pengolahannya dengan merk So Good menjadi brand yang dikenal akrab oleh anak-anak. Investasinya memang tidak sedikit namun Japfa mampu meyakinkan pasar bahwa produknya menjadi pilihan.

Saat ini perusahaan integrasi yang turun di sektor hilir atau pengolahan hanya 3 perusahaan yakni Charoen Pokphand, Japfa Comfeed dan Sierad. Saat ini Japfa Comfeed yang paling serius melihat peluang ini sehingga iklannya terus gencar di berbagai media baik visual maupun cetak.

Secara industri ini baik karena akan memberi pelajaran bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan yang terkemas rapi. Berbeda dengan saat ini yang penjualan karkas dipasar masih mendominasi penggunaan ayam bagi konsumsi masyarakat.

Rabu, 23 Januari 2008

Koperasi Pertaninan Yang Sebenarnya

Saat ini orang menganggap koperasi telah mati bersama meredupnya keberdayaan pertanian di Indonesia. Menurut saya hanya karena kesalahan konsep yang dilakukan oleh orde baru maka kita menganggap koperasi telah gagal menyokong pembangunan pertanian.

Padahal kalau kita kaji lebih dalam harusnya koperasi didisain untuk menyokong semua kebutuhan petani. Mulai dari sarana produksi hingga pasca panen dan bahkan penjualannya. Petani harusnya hanya disibukkan oleh urusan bagaimana menghasilkan panen yang maksimal lainnya urusan koperasi.

Koperasi didirikan untuk menyokong petani kita yang masih rendah daya tawarnya. Idenya adalah menciptakan koperasi seperti konsep plasma inti. Tapi bukan sekadar menyediakan tapi juga mensupport segala kebutuhan produksi hingga petani mampu menghasilkan produknya yang kualitas dan kuantitasnya bagus.

Koperasi menyediakan kredit lunak bagi petani yang biasanya memang tak punya modal. Misal Koperasi yang membawahi petani padi ya menyediakan segala keperluan petani mulai dari bibit, pupuk, peralatan teknis dan penyuluhan teknis.

Modal tersebut akan dikembalikan oleh petani dengan panen. Selanjutnya Koperasi harus mempunyai mesin-mesin pasca panen yang sulit bagi petani memenuhinya karena harganya yang tidak murah. Selain itu koperasi juga harus mempunyai pergudangan yang baik dan mampu menyimpan panen petani untuk dijual pada waktu harga yang baik.

Suport ini memang awalnya harus pemerintah yang mengendalikan sampai koperasi mampu dipercaya oleh petani menjadi pilihan bagi mata penghasilannya.

Koperasi yang dibentuk tak usah pake induk-induk seperti puskud atau inkud sebab dua lembaga ini justru menjadi sarana inefisiensi bagi mesin produksi ini.

Koperasi langsung bermitra dengan para pedagang pasar atau pengepul. Sukur kalau koperasi mempunyai toko distribusi sendiri di pasar-pasar besar akan memberi lebih banyak keuntungan bagi petani.

Anda bisa membayangkan bila salah satu suplier supermarket besar seperti Giant, Hero, Matahari, Carrefour, Indomaret dll adalah koperasi-koperasi hasil konsep saya diatas.

Hanya saja konsep ini akans emakin cepat bila masalah korupsi dapat ditekan seminimal mungkin.

Jumat, 18 Januari 2008

Kapan Ada Bank Pertanian

Pak Jumadi enteng mengayuh sepedanya menelusuri jalan desa menuju sebuah perempatan di kota kecamatan. Butuh 7 kilometer Jumadi menempuh jalan untuk sampai ke sebuah perempatan. Ya di perempatan itu berdiri sebuah bangunan bernama Bank Pertanian dengan slogan Semua Untuk Pertanian.

Sesampainya di gedung tersebut pak Jumadi yang menggunakan kemeja warna putih sedikit lusuh dengan celana hitam dan sandal jepit menemui seorang wanita di sudut ruangan berpenyejuk. Seoerang wanita dengan wangi dan dandanan rapi memberi salam Jumadi. "Selamat pagi pak gimana panen jagung kemarin?" Pak Jumadi menebar senyum sambil berkata "Wah lumayan bu yang jelas bisa ngirim anak buat biaya sekolah dan bayar kredit"

"Oh ya sekalian ibu saya mau ambil kredit lagi buat nanem padi bu kan mau musim hujan," ujarnya sambil menyodorkan sebuah buku. Wanita muda pegawai bank kemudian membuka buku yang disodorkan Jumadi.

"Seperti biasa ya pak jaminannya panen nanti. Jangan lupa ke bagian pengadaan untuk ferivikasi untuk mendpatakan sarana produksi. Kalau bisa panennya agak banyakan lagi pak biar selisihnya nambah buat keperluan pribadi,"

"Pasti bu saya akan terus memperbaharui sistem penanaman saya biar hasilnya lebih dari yang kemarin," ujar Jumadi seraya mengambil buku dan rekomendasi dari Bank.

Ini khyalan saya, mungkin gak di negara kita mempunyai kebijakan tentang penjaminan kredit dengan hasil panen. Dengar-dengar di banyak negara agraris kebijakan Perbankan Pertanian sudah diterapkan.

Sampai saat ini negara Indonesia belum mempunyai kebijakan tentang UU Perbankan pertanian yang memperkenan masyarakat mendapatkan kredit dengan jaminan hasil panen dan bukan kebendaan. Tentu saja selain itu juga harus mempunyai bunga bank yang rendah.

Pada pola yang sama namun sedikit berbeda pola ini sudah diterapkan di peternakan terutama unggas. Peternakan unggas di Indonesia sudah cukup maju terutama kreativitas bisnisnya. Saat ini untuk beternak ayam baik pedaging maupun petelur tak harus punya modal besar untuk menjalankannya.

Terutama ayam pedaging cukup dengan modal kandang dan peralatannya peternak sudah bisa mendapatkan semua modalnya. Banyak perusahaan kemitraan yang menawarkan kerjasama yang cukup bervariasi.

Initinya segala kebutuhan sarana produksi mulai dari bibit ayam, pakan dan obat-obatan disediakan oleh perusahaan kemitraan. Peternak tinggal menyediakan kandang beserta kelengkapannya ditambah tenaga kerja.

Sebelum memulai perusahaan kemitraan menyodorkan detil kerjasamanya mulai dengan kesepakatan harga bibit, pakan dan obat serta harga beli ayam setelah panen. Bahkan ada perusahaan kemitraan yang memberi insntif khusu bagi peternak yang mampu menekan angka kematian dan jumlah konsumsi pakan. Adanya banyak pola kerjasama dari banyak perusahaan kemitraan yang ditawarkan.

Bisakah kalau pola seperti ini diterapkan pada sektor pertanian lainnya seperti jagung, kedele, padi, hortikultura bahkan perkebunan. Atau bisakah lembaga keuangan pemerintah masuk ke wilayah ini menggunakan pola tersebut dengan bunga yang rendah di bawah bunga bank komersial.

Atau bisakah Koperasi mengambil peran semacam seperti ini. Pemerintah memberi kontribusi modal pada koperasi untuk melengkapi diri mulai dari penyediaan semua sarana produksi pertanian hingga mesin-mesin mekanisasi untuk produksi maupun pengolah hasil panen. Petani hanya berkonsentrasi untuk menghasilkan tanaman yang subur dengan panen yang maksimal selebihnya Koperasi yang mengurus?

Rasanya memang masih panjang pertanian Indonesia mencapai titik impiannya.

Rabu, 16 Januari 2008

Pasca Panen Tak Tersentuh

Hari ini saya berpikir bahwa memang benar pemerintah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan pertanian. Indikasi kuat adalah problem naiknya harga biji-bijian sebenarnya sudah tercium setahun yang lalu ketika adanya krisis energi fosil.
Pemerintah negara-negara maju mulai mengantisipasi kenaikan harga energi dunia dengan meningkatkan penelitian dan produksi bio energi. Hal ini terbukti harga jagung impor naik yang ditandai dengan naiknya harga pakan sejak tahun 2006.
Pemerintah Amerika kemudian mulai merubah peruntukan lahan yang semula buat kedele menjadi tanaman jagung yang kemudian dirubah menghasilkan bioetanol. Secara bertahap pemerintah amerika mulai memasarkan bioetanol kendati masih terbatas.
Namun sebagai negara maju pastilah mereka serius dalam menjalankan program mulai konversi hingga pom-pom bensin bioetanol.
Sangat berbeda dengan pemerintah kita sejak jaman tahun 80-an kita sebenarnya sudah dijajah dengan produk-produk impor. Baik jagung, kedele sampai tepung terigu.
Sejak jaman tersebut sampai sekarang swasembada biji-bijian ahanya sebatas wacana saja tak lebih dari itu.
Harusnya pemerintah secara bertahap membenahi problem-problem yang membuat swasembada tidak tercapai. Sayangnya pemerintah tak pernah beranjak pergi.
Kualitas yang sering dikeluhkan hampir tak pernah tersentuh. Perbaikan pasca panen hampir tak pernah diperbaiki. Petani selalu dihantui kerusakan hasil panennya karena ia tak punya alat-alat yang canggih seperti pemanas ataupun tempat penyimpanan.
Alhasil setiap musim panen kita selalu dihadapkan pada harga-harga produk pertanian yang rontok. Dan sampai saat ini kita masih seperti tahun 90-an dari ukuran problem.

Kedele, Cermin Kegagalan Pertanian 2

Rasanya cuma ini yang cocok untuk mengungkapkan kekecewaan saya terhadap langkah pemerintah menghadapi gejolak harga kedele.
Percuma sampai presiden beserta stafnya rapat di departemen pertanian kalau yang terjadi keputusannya hanya menghapus bea masuk impor sebesar 10%. Padahal kenaikan yang sudah lebih dari 100% hanya dijaweab dengan insentif 10% gak ada artinya.
Entah kebijakan apalagi yang akan dibuat oleh pemerintah untuk mengatasi gejolak kedele dan jagung yang merubah trend dunia di masa depan.
Perubahan pola penggunaan kedele dan jagung atau biji-bijian tidak akan mengembalikan harga menjadi murah kembali.
Trend dunia sejak kenaikan harga minyak menyebabkan dunia beralih pada biofuel yakni bioetanol. Makanya kebijakan pemerintah harusnya sudah mengarah kesana. Apabila kebijakannya yang komprehensip bukan mustahil Indonesia akan menjadi produsen biofuel terbesar. Tapi mungkinkah.

Mekanisasi
Saat ini pemerintah harusnya membenahi secara total pola pertanian kita. Kedele lokal menjadi mahal sehingga tidak dilirik oleh pengguna kedele karena lemahnya pasca panen petani.
Sampai saat ini petani yang jelas lemah dari sisi modal tak berdaya menghadapi peningkatan kualitas kedele yang diminta oleh pasar. Demikian pula dengan produk pertanian yang lain.
Namun sayang justru inilah yang terlemah. Pemerintah tidak memberi solusi yang baik menghadapi kendala petani.
Petani membutuhkan alat-alat mekanisasi yang modern untuk menunjang kualitas yang diinginkan pasar. Padahal petani jelas tak punya cukup uang untuk mebeli peralatan tersebut. Alhasil mereka jual produknya dengan kualitas rendah tapi dengan harga yang mahal. Sampai disni jangan berharap pertanian kita berkembang.
Harusnya pemerintah membuat lembaga bantuan petani dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah dengan mengumpulkan petani dalam areal tertentu misalnya untuk petani kedele. Kemudian pemerintah membuat sebuah lembaga yang menyediakan segala keperluan petani baik sarana produksi maupuan saranan pasca produksi. Lembaga ini juga akan berfungsi sebagai penyangga komoditas yang dihasilkan petani. Sebenarnya mirip bulog, sayangnya sekarang lembaga ini bukannya membantu petani tapi justru menghancurkan petani.
Lembaga Petani tersebut nantinya disamping mempunyai peralatan untuk meningkatkan kualitas juga harus mempunyai tempat penyimpanan yang baik juga sehingga ketika panen raya produk petani tak langsung dijual.
Selain itu sukur-sukur lembaga ini juga memberikan kemudahan kredit bagi petani untuk produksi seperti bibit, pupuk dan desinfektan.
Peternakan terutama ayam sudah cukup lama terjadi kemitraan yang bagus antara peternak dengan mitra yang dipegang oleh swasta. Produk peternakan langsung dihargai dengan harga kontrak. Peternak nyaman beternak tanpa ketakutan harga jatuh.
Bisakah petani mempunyai lembaga semacam itu sehingga kualitas kedele, jagung dan biji-bijian lainnya bisa bagus dengan kadar air dan aflatoksin yang rendah.

Senin, 14 Januari 2008

Kedelai, Cermin Kegagalan Pertanian 1

Harga kedelai yang melambung dan mulai mengganggu industri grass root macam tahu tempe mulai mengganggu kenyamanan pemerintah kita. Maklum setahu saya pemerintah kita hanya risih bila dikritik, diprotes dan didemo kalau nggak peduli amat.
Kata-kata saya memang terasa kasar tapi demikianlah yang terjadi. Saya cinta pertanian makanya saya gak ingin negara kita yang agraris selalu kalah dengan keadaan ini.
Pemerintah harusnya sudah tau dari jaman dulu bahwa kedelai mempunyai arti yang sangat strategis. Betapa tidak bila bangsa ini sejak jaman dahulu kala sudah menjadi pengkonsumsi kedelai yang cukup besar.
Sayangnya kondisi ini tak juga membuat program pemerintah terutama pertanian membangunnay sedari awal. bahkan beberapa ahli pertanian menyebutkan Indonesia gak cocok untuk menjadi produsen kedelai.
Saya jadi sedih melihat pernyataan ini. Jumlah Profesor, Dojtor, PhD, Ir ahli pertanian berjubel di negara ini tapi menghasilkan benih yang cocok dengan negara ini tak juga kunjung mendapatkan hasil.
Memang dibutuhkan kebijakan yang menyeluruh untuk menjadikan kedelai subur di negera kita. Dana diakui bukan hal yang murah untuk memperoleh benih yang unggul.
Tapi melihat nilai strategis yang dipunyai kedelai dana bukan hal yang harus ditakutkan.
Sekarang kita sedang menikmati hasil dari apa yang telah kita tanam. Sangat bergantung sama negara yang banyak kalangan membencinya yakni Amerika Serikat.
Makanya jadi sangat bertolak belakang ketika kita mendemo Amerika Serikat karena arogansinya tapi kita tak berbuat apapun menghadapi penjajahan di semua lini.

Jumat, 04 Januari 2008

Indonesia Sumber Biofuel

Sudah sadar belum kalau negara ini Kaya akan biofuel. Mau tau coba tengok dari sumber jagung, ketela, sawit, jarak sampai sagu merupakan potensi energi dunia. Kondisi dunia yang tengah mengalami kecemasan akan energi fosil menyebabkan harga minyak sempat menyentuh 100 dollar per barrel.
Seharunya negara kita sudah harus mempersiapkan industri untuk menangkap peluang biofuel di masa mendatang baik untuk kepentingan perdagangan dunia maupun untuk kebutuhan energi alternatif.
Coba liat sagu yang tumbuh subur di hutan-hutan merupakan sumber energi yyang bisa merubah wajah petani kita. Penikmat sagu saat ini tak lagi banyak karena sudah berpindah ke beras. Makanya sagu merupakan satu pilihan yang tepat guna meningkatkan produksi biofuel kita.
Lain lagi dengan jarak. Tanaman perdu ini sangat potensial untuk menjadi salah satu ekspor besar kita dengan menciptakan sumber energi baru. Bahkan penelitian-penelitan menggunakan minyak jarak sudah pula berjalan. Jarak lebih bagus lagi kerana tidak dikonsumsi oleh manusia.
Lain halnya dengan jagung, ketela yang masih harus bersiang dengan konsumsi manusia. Namun bukan hal yang mustahil kalau produksi jagung dan ketela kita melimpah maka keduanya bisa menjadi energi alternatif yang sangat menjanjikan.
Industri biofuel nantinya harus diiringi dengan indtsri peternakan karena bungkil baik sagu, jarak, ketela maupun jagung akan bisa menjadi sumber pakan bagi peternakan baik ternak runminansia maupun unggas.
Lantas kapan pemerintah memulainya sementara negara-negara produsen jagung telah memulai. Ini ditandai dengan harga jagung dunia yang terus merangsek.