Minggu, 12 Agustus 2007

Susu Yang Tak Berdaya

Entah dasar berpijak darimana sehingga sampai saat ini pemerintah tak juga memperhatikan keberadaan industri susu di Indonesia. Sampai saat ini pemerintah masih saja membiarkan pasokan susu dinikmati oleh orang luar seperti Australia dan Selandia Baru.

Padahal kita tau bersama bahwa susu merupakan salah satu nutrisi penting bagi anak usia muda. Tingkat kecerdasan masyarakat bisa ditingkatkan dengan pemberian nutrisi yang mencukupi. Caranya adalah dengan memberikan susu harga murah yakni dengan meningkatkan produksi susu nasional.

Saat ini sentra peternakan sapi perah masih terkonsentrasi di Lembang Bandung, Baturraden Purwokerto dan Batu Malang. Alhasil produksi susu nasional kita gak beranjak pergi. Padahal jumlah penduduk semakin bertambah ditambah masyarakat yang mampu juga meningkat makanya kebutuhan susu kita semakin tinggi saja. Tapi yang menikmati ini kembali orang luar yakni peternak selandia baru dan australia.

Kendala industri susu sangat banyak kalau gak dibilang tidak pernah tersentuh perbaikan disana sini. Bibit sapi perah masih mengandalkan jenis Frisien Holland yang notabene sapi sub tropis. Makanya sentra sapi perah masih berada di daerah dingin karena faktor kendala tersebut.

Padahal Australia saja sudah menciptakan beberapa strain khusus yang mampu hidup di daerah tropis seperti Australian friesian Sahiwal, Australian Milking Zebu, dan lainnya.

Max Dowell, ahli genetik sapi perah dari Cornell pernah diundang dalam International Holstein Seminar di UNPAD. Max menyarankan, the most suitable dairy cattle untuk negara tropis seperti Indonesia adalah dengan proporsi 75% pure holstein blood dan 25% indigenous blood.

Kebijakan Dowell ini memang banyak diamini oleh negara2 tropis di Amerika latin. Hasilnya? Kapasitas produksi Holstein silangan ini tentu tidak sebagus Holstein aslinya, tapi sapi hybreed ini kampiun dalam mempertahankan diri terhadap sengatan panas dan kelembaban yang tinggi, tahan terhadap serangan serangga dan parasit.

Lebih-lebih lagi, mikroba rumen yang hidup didalamnya juga mampu mencerna vegetasi yang khas untuk daerah tropis, yang notabene mengandung serat dan lignin yang tinggi. Ukuran tubuhnya yang lebih ramping, juga lebih pas untuk daerah tropis.

Ahli-ahli genetika Indonesia sebenarnya mampu menciptakan strain asli Indonesia namun sayang keterbatasan dana membuat strain ini tak pernah muncul.

Padahal dengan strain yang lebih bersahabat dengan iklim Indonesia maka produksi susu nasional bisa ditingkatkan.

Selain itu kualitas hijauan di Indonesia juga masih rendah. Pemahaman tentang hijauan yang mengandung nutrisi tinggi tidak pernah dipahami dengan baik oleh peternak sapi perah. Mereka ahli dalam meracik konsentrat tapi sangat lemah dalam memilih hijauan yang nutrisinya tinggi. Akibatnya biaya produksi persatu liternya menjadi tinggi.

Belum lagi bicara tentang pengolahan susu itu sendiri. Sampai saat ini peternak hanya mengandalkan secepat mungkin mengirim susu ke koperasi atau pengumpul karena peternak kita tak punya teknologi dalam menahan laju kontaminasi bakteri dalam susu.

Hal ini disbebkan peternak sapi perah kita masih tergolong gurem sehingga penghasilan susu hanya cukup buat dapur ngebul, perkara yang lain sangat sulit dipenuhi.

Ada baiknya pembaca juga bisa menambahkan kendala apa saja yang terjadi di Industri susu kita.

Tidak ada komentar: